Jumat, Desember 05, 2008

Buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah


Buku petunjuk ini ditulis supaya setiap civitas akademika me-nyadari penuh tentang pentingnya penelitian dan menuliskannya untuk berbagai media dengan menggunakan berbagai format. Buku ini disusun supaya setiap civitas akademika menghargai penuh hak intelek-tual seseorang dan menghindari upaya-upaya amoral dalam bentuk plagiarisme. Di beberapa kampus, diterapkan peraturan bahwa setiap mahasiswa yang terbukti telah melakukan plagiat sesuai dengan aslinya dalam bentuk apapun (paper, skripsi/tugas akhir, thesis, atau karya ilmiah lainnya) kepadanya dikenakan sanksi berupa pembatalan karya ilmiah tersebut dan seluruh nilai mata kuliah pada semester yang bersangkutan; setiap lulusan universitas yang telah terbukti melakukan plagiat sesuai dengan aslinya dalam bentuk apapun (skripsi, thesis, disertasi dan atau tulisan lainnya), kepadanya dikenakan sanksi berupa pencabutan gelar yang dimiliki atau pembatalan gelar yang diperoleh; juga setiap dosen universitas apapun di dalam maupun di luar negeri yang telah terbukti melakukan plagiat sesuai dengan aslinya dalam bentuk apapun kepadanya dikenakan sanksi berupa tidak ada pengakuan syarat usulan kenaikan pangkat dalam kurun waktu 2 (dua) tahun sejak telah terbukti melakukan plagiat untuk peringatan pertama dan skorsing melakukan kegiatan akademik selama 2 (dua) semester untuk melakukan kesalahan yang sama selanjutnya.

Buku ini telah menghimpun sejumlah sumber agar penulisan karya ilmiah berjalan secara sistematis, logis dan menggunakan metode pengutipan yang benar serta bahasa yang baku, meski tidak harus kaku. Buku ini hanyalah kompilasi dari beberapa aturan yang sudah umum diketahui oleh para akademisi atau mahasiswa sebagai calon-calon baru akademisi. Penyebutan sumber adalah bukti peng-hargaan terhadap karya penelitian yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita dan juga menunjukkan bagaimana kita membangun se-buah gagasan yang didukung oleh berbagai ide atau gagasan sebe-lumnya. Originalitas tidaklah mesti dari awal hingga akhir kita membuat semuanya sendiri. Originalitas adalah kesimpulan akhir yang kita buat berdasarkan data-data dan preposisi-preposisi pendukung yang telah hadir sebelumnya. Maka, originalitas adalah hasil akhir perkem-bangan ilmu yang merupakan hasil interpretasi kita atas data-data, ide-ide dan rujukan-rujukan serta metode yang telah ada. Terakhir, menulis bukanlah hal yang mudah, namun juga bukanlah hal yang terlalu sulit. Semua akademisi diwajibkan minimal bisa menulis skripsi yang me-nunjukkan bahwa menulis adalah kemampuan capaian minimal yang harus dimiliki sebelum dinyatakan lulus dari sebuah institusi ilmu pengetahuan. Selamat berkarya.***


--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Mutiara Wasiat untuk Ummat Islam

Mutiara Wasiat untuk Ummat Islam,” judul kitab aslinya adalah “al-Whasiah al-Zhahabiah karangan Syaikh Mahmoud Abu Faidl al-Manufi, sorang ulama Mesir yang hidup setelah masa Syaikh Jamaluddin al-Afghany. Beliau adalah seorang ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang luas, berpikir komprehensif, memadukan antara masalah diniah, ilmiah, shufiah, dan falsafah. Beliau juga tokoh pencetus sebuah Tharekat di Mesir bernama “Tharekat al-Faidiah” yang prinsip akidahnya berfaham ahlu sunnah wa-al-jamaah yang mengacu kepada manhaj shalafus-shalih, dalam cara ibadahnya tidak mengacu kepada salah satu madzab fiqh.

Profil manhaj thariqah-nya tertuang dalam tulisannya sebuah kitab ‘Lum’a al-Yaqin’ (yang sedang kami terjemahkan)  ditulis pasca-Perang Dunia I (1921). Tharekat tersebut tujuannya membangun kejamaahan yang ber-ukhuwah islamiyah, siasatnya mengacu pada pemikiran Jamaluddin al-Afghany dalam konsep Pan Islamisme, kejamaahan yang dibangun berdasarkan pada prinsip dan doktrin “al-Intisab.” Selanjutnya kitab tersebut menjadi rujukan utama yang diadopsi oleh KH Abdul Halim, selanjutnya dimodifikasi menjadi doktrin organisasi Perikatan Ummat Islam (PUI) sebagai pengganti organisasi Perikatan Ulama (didirikan 1917) yang dibubarkan pada masa Jepang.

Al-Intishab dideklarasikan pada malam Nuzulul Qur’an 1942 di Majalengka sebagai tandingan terhadap ajaran sekerei Jepang yang mewajibkan rakyat Indonesia sujud kepada Tenno Haika sebagai penjelmaan Dewa Matahari.

Selanjutnya al-Intishab menjadi doktrin Organisasi Per-satuan Ummat Islam (PUI) hasil fusi dua organisasi Perikatan Ummat Islam (PUI) yang didirikan oleh KH Abdul Halim di Majalengka dengan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) yang didirikan oleh KH Ahmad Sanusi di Sukabumi sebagai pengganti organisasi al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII) yang didiri-kan 1931 dan sama-sama dibubarkan oleh Jepang. Fusi terse-but dilaksanakan tanggal 9 Rajab 1373 H bertepan tanggal 5 April 1952 di Bogor.

Terjemahan ini kami harapkan agar mudah dibaca dan dipahami oleh warga PUI khususnya dan ummat Islam pada umumnya supaya mengerti betul arti dan makna al-Intishab. Mudah-mudahan dihayati dan diamalkan dalam rangka mem-perkokoh akidah kita dan meningkatkan kualitas amal ibadah serta akhlak kita.

Terjemahan ini sebenarnya telah kami selesaikan sejak Muktamar PUI XI tahun 2004 di Jakarta. Naskah konsepnya kami serahkan kepada Sdr. Ahmad Djuwaeni, Sekretaris Dewan Pembina Pimpinan Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI) untuk diedit dan disempurnakan, namun baru kali inilah dapat kami terbitkan dengan harapan semoga buku ini bermanfaat bagi warga PUI dan seluruh ummat Islam.***

Fwd: Sampul Buku Rizwan



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 21 Januari 2008 15:39
Subjek: Sampul Buku Rizwan
Ke: muhammad muntasir <muhammadmuntasir@yahoo.com>
Cc: bucekaza@yahoo.com


Sir,

Ini aku kirimkan sampul buku Rizwan. Pake et.al. (jangan pakai dkk).

Salam,

Haidar

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Wawancara dgn pelaku bom istishadiyah



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 11 Januari 2006 22:56
Subjek: Wawancara dgn pelaku bom istishadiyah
Ke: madanipress@yahoo.com




--
Al Chaidar
Department of Anthropology
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: daftar istilah latin



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 24 Mei 2008 15:15
Subjek: daftar istilah latin
Ke: risa_wandi@yahoo.co.id


daftar istilah latin

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Cover buku Ekonomi Lingkungan Hidup2



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 26 November 2008 06:46
Subjek: Cover buku Ekonomi Lingkungan Hidup2
Ke: pak_dafie@yahoo.com, Damanhur Yusuf Abbas <hurbenabbas@gmail.com>, Wahyudin sE <whachyoe@yahoo.com>


Cover buku Ekonomi Lingkungan Hidup2

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: cover buku ekonomi moneter



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 25 November 2008 06:57
Subjek: cover buku ekonomi moneter
Ke: Apridar <apridar@gmail.com>, "Apridar S.E., M.Si." <apridar@yahoo.com>, Ayi Asrianda <asrianda@gmail.com>


cover buku ekonomi moneter, ada 4 halaman.

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Proposal PAPA 3 (Bahasa Indonesia dan English)



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 9 November 2008 16:57
Subjek: Proposal PAPA 3 (Bahasa Indonesia dan English)
Ke: Damanhur Yusuf Abbas <hurbenabbas@gmail.com>, Damanhur <kareung@yahoo.com>, Wahyudin sE <whachyoe@yahoo.com>, pak_dafie@yahoo.com, Ayi Asrianda <asrianda@gmail.com>, Apridar <apridar@gmail.com>


Proposal PAPA 3 (Bahasa Indonesia dan English)

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Foto masa kecil: the big four!



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Cosmoscopia Club International <cosmoscopia@yahoo.de>
Tanggal: 28 November 2008 06:24
Subjek: Foto masa kecil: the big four!
Ke: Mai Cosmos <cosmoscopia@googlemail.com>
Cc: Mr Irwandar <irwandar_wandar@yahoo.com>, Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>, Apridar Apridar <apridar@yahoo.com>, Sudarman <alcatiry@yahoo.com>


Ini foto masa kecil, yang ketemu di arsip lama

Bang Ir memegang Caca
Dek Yin bersama Mai yang gigit jari ...

Harap dicetak buat kenangan di rumah sesuai kebutuhan dan diberikan ke satu copy ke rumah Mama.


CCI
Headquarters




--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: cover buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (Final)



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 26 November 2008 04:26
Subjek: cover buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (Final)
Ke: "Apridar S.E., M.Si." <apridar@yahoo.com>, Apridar <apridar@gmail.com>, Ayi Asrianda <asrianda@gmail.com>


cover buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (Final)

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (yg final)



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 26 November 2008 04:12
Subjek: Buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (yg final)
Ke: "Apridar S.E., M.Si." <apridar@yahoo.com>, Apridar <apridar@gmail.com>, Ayi Asrianda <asrianda@gmail.com>, Muhammad Muntasir <muhammadmuntasir@gmail.com>, Hermandar Puteh <hermandarputeh@yahoo.com>


Buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah (yg final)

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Buku Negara Islam Indonesia, antara Fitnahdan Realita



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Madani Press <madanipress@gmail.com>
Tanggal: 5 Desember 2008 06:44
Subjek: Buku Negara Islam Indonesia, antara Fitnahdan Realita
Ke: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>, hakiem Anshari <robbani05@yahoo.com>


Buku Negara Islam Indonesia, antara Fitnahdan Realita

--
PT. Madani Press
(Penerbit dan Percetakan)
Perum. Bojong Depok Baru II,
Jl. Garuda, Blok CC/2, RT 07, RW 013
Sukahati, Cibinong 16913
INDONESIA
Telp.: +62-21-8791 4649
Mobile: +62-813-1765 8142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Fwd: Cover buku Ekonomi dan Otonomi Daerah



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Al Chaidar <alchaidar@gmail.com>
Tanggal: 26 November 2008 05:41
Subjek: Cover buku Ekonomi dan Otonomi Daerah
Ke: pak_dafie@yahoo.com, Wahyudin sE <whachyoe@yahoo.com>, Damanhur Yusuf Abbas <hurbenabbas@gmail.com>


Cover buku Ekonomi dan Otonomi Daerah

--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142



--
Al Chaidar
Department of Political Science
University of Malikussaleh
Jl. Tgk. Chik Di Tiro No. 26, Lancang Garam,
Lhokseumawe 24351
Aceh - INDONESIA
Mobile phone: +62-81317658142

Trs: bULUGHUL mARAAM



Al Chaidar
Perum. Bojong Depok Baru II,
Blok CC No. 2, Jl. Garuda,
Sukahati, Cibinong, RT 07/RW13
BOGOR 16913,
INDONESIA
Tel./Fax.: +62-21-8790 4516
Mobile: +62-81317658142


--- Pada Kam, 27/11/08, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com> menulis:
Dari: Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>
Topik: bULUGHUL mARAAM
Kepada: "Damanhur" <hurbenabbas@gmail.com>, "Zulham Unimal" <hamkoff@yahoo.com>, "Tgk Muntasir" <muntasirakadir@yahoo.com>, "Fauzy S.Sos, M.A." <fau_la@yahoo.co.id>
Tanggal: Kamis, 27 November, 2008, 5:20 AM

Para teungku dan guree yang long muliakan,
Terlampir kitab Bulughul Maraam yang sangat terkenal dan dahsyat itu. Semoga berkenan menerima file e-book kita kuning yang sangat penting ini.

Al Chaidar
Perum. Bojong Depok Baru II,
Blok CC No. 2, Jl. Garuda,
Sukahati, Cibinong, RT 07/RW13
BOGOR 16913,
INDONESIA
Tel./Fax.: +62-21-8790 4516
Mobile: +62-81317658142


Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!


Pamer gaya dengan skin baru yang keren.
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru sekarang!

Buku Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah


Buku petunjuk ini ditulis supaya setiap civitas akademika me-nyadari penuh tentang pentingnya penelitian dan menuliskannya untuk berbagai media dengan menggunakan berbagai format. Buku ini disusun supaya setiap civitas akademika menghargai penuh hak intelek-tual seseorang dan menghindari upaya-upaya amoral dalam bentuk plagiarisme. Di beberapa kampus, diterapkan peraturan bahwa setiap mahasiswa yang terbukti telah melakukan plagiat sesuai dengan aslinya dalam bentuk apapun (paper, skripsi/tugas akhir, thesis, atau karya ilmiah lainnya) kepadanya dikenakan sanksi berupa pembatalan karya ilmiah tersebut dan seluruh nilai mata kuliah pada semester yang bersangkutan; setiap lulusan universitas yang telah terbukti melakukan plagiat sesuai dengan aslinya dalam bentuk apapun (skripsi, thesis, disertasi dan atau tulisan lainnya), kepadanya dikenakan sanksi berupa pencabutan gelar yang dimiliki atau pembatalan gelar yang diperoleh; juga setiap dosen universitas apapun di dalam maupun di luar negeri yang telah terbukti melakukan plagiat sesuai dengan aslinya dalam bentuk apapun kepadanya dikenakan sanksi berupa tidak ada pengakuan syarat usulan kenaikan pangkat dalam kurun waktu 2 (dua) tahun sejak telah terbukti melakukan plagiat untuk peringatan pertama dan skorsing melakukan kegiatan akademik selama 2 (dua) semester untuk melakukan kesalahan yang sama selanjutnya.
Buku ini telah menghimpun sejumlah sumber agar penulisan karya ilmiah berjalan secara sistematis, logis dan menggunakan metode pengutipan yang benar serta bahasa yang baku, meski tidak harus kaku. Buku ini hanyalah kompilasi dari beberapa aturan yang sudah umum diketahui oleh para akademisi atau mahasiswa sebagai calon-calon baru akademisi. Penyebutan sumber adalah bukti peng-hargaan terhadap karya penelitian yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita dan juga menunjukkan bagaimana kita membangun se-buah gagasan yang didukung oleh berbagai ide atau gagasan sebe-lumnya. Originalitas tidaklah mesti dari awal hingga akhir kita membuat semuanya sendiri. Originalitas adalah kesimpulan akhir yang kita buat berdasarkan data-data dan preposisi-preposisi pendukung yang telah hadir sebelumnya. Maka, originalitas adalah hasil akhir perkem-bangan ilmu yang merupakan hasil interpretasi kita atas data-data, ide-ide dan rujukan-rujukan serta metode yang telah ada. Terakhir, menulis bukanlah hal yang mudah, namun juga bukanlah hal yang terlalu sulit. Semua akademisi diwajibkan minimal bisa menulis skripsi yang me-nunjukkan bahwa menulis adalah kemampuan capaian minimal yang harus dimiliki sebelum dinyatakan lulus dari sebuah institusi ilmu pengetahuan.***

Buku Negara Islam Indonesia, Antara Fitnah dan Realita


Buku Negara Islam Indonesia, Antara Fitnah dan Realita


Setengah abad telah berlalu atau tepatnya 59 tahun semenjak SM Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 M/12 Syawal 1368 H. Tetapi hingga kini pembicaraan tentang Negara Islam Indonesia masih mengundang silang sengketa, prasangka dan bahkan reaksi yang berlebihan. Setiap muncul upaya menegakkan syariat Islam secara kaffah, maka dapat dipastikan tudingan dan tuduhan negatif akan mengarah kepada Darul Islam (cq. Negara Islam Indonesia) yang oleh Pemerintah Pancasila NKRI dipandang sebagai pelopor utama munculnya ide Negara Islam.
Mengungkapkan sejarah perjuangan Negara Islam Indonesia dan proklamatornya, sang Imam awal, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, sama pentingnya dengan mengungkapkan fakta kebenaran yang sering luput bahkan hilang dari pandangan sebagian besar kaum muslimin di bumi Nusantara Indonesia. Hal ini perlu dilakukan, sebab dalam per-jalanan sejarahnya, NII dan sang Imam telah banyak dimanipulasi bahkan ditutup-tutupi oleh penguasa yang tengah berjaya. Sejarah seringkali menjadi alat legitimasi penguasa. Rezim diktator Soekarno semasa Orde Lama yang kemudian dilanjutkan oleh rezim tirani Soeharto Orde Baru selama puluhan tahun menuai sukses besar dalam membohongi, menye-satkan dan terus-menerus secara sistematis menyebar dusta di sekitar perjuangan Negara Islam Indonesia. Namun, respon dan reaksi yang diberikan oleh para penerus Negara Islam Indonesia senantiasa hadir mengimbangi manipulasi tersebut.
Ini membuktikan bahwa ideologi tidak pernah mati. Para pelaku seja-rah boleh saja pikun atau sirna dari pandangan mata yang kasat, namun ide tetap bertahan, bertengger di sudut bongkahan sejarah. Ide-ide terus berkembang, menyempurnakan diri dan beradaptasi dengan kemajuan jaman. Negara Islam Indonesia tidak mati dan akan selalu terus abadi di hati kaum muslimin yang sadar akan tugasnya selaku hamba Allah untuk beribadah dan menjadi Khalifah di muka bumi. SM Kartosewirjo mungkin telah berbaring dengan tenang di pusaranya, tetapi ide, gagasan, dan cita-citanya akan terus hidup dan dilanjutkan oleh para pelanjut perjuangan-nya. Ia telah menyiram dengan darah dan membuktikan sikap istiqomah-nya agar perjuangan Negara Islam Indonesia tetap berlanjut, dan sekarang amanah perjuangan telah beralih kepada kita serta setiap orang yang yakin bahwa hanya Al Quran dan Hadits Shahih sebagai hukum tertinggi.
Negara Islam Indonesia telah lama mengalami berbagai fitnah dan syubhat yang mengakibatkan kesucian perjuangannya menjadi samar di mata kaum muslimin, di samping itu kelemahan yang dialami segenap Mujahidin NII akibat terus-menerus diburu aparat intelijen musuh dan menjadi intaian peluru tentara lawan serta padatnya agenda perjuangan yang harus diselesaikan menjadikan mereka belum bisa maksimal dalam menjawab dan menjelaskan berbagai fitnah dan syubhat tersebut.
Tetapi sedikit demi sedikit upaya untuk menjelaskan mana fitnah dan mana realita dari Negara Islam Indonesia mulai dilakukan dengan harapan semoga kiranya jalan perjuangan yang ditempuh akan menjadi lebih mudah dilalui, untuk itu pula buku ini diterbitkan sekedar penjelasan bagi kaum muslimin sekalian agar menjadi jelas mana al haq dan mana al bathil. Mudah-mudahan apa yang tengah dirintis menjadi jalan bagi bangunnya hati-hati yang selama ini tertidur juga menjadi sebab bangkitnya kaum muslimin untuk membela izzul Islam wal muslimin.
Buku kecil ini hadir di tengah-tengah derasnya arus perkembangan umat manusia untuk mencari ide terbaik dalam mengelola sebuah negara. Buku ini hanyalah sebuah historical memoric device untuk mengingat kem-bali kearifan lokal masa-lalu Indonesia. Masih banyak hal yang perlu digali dari situs sejarah masa lalu dan diinterpretasikan untuk menjawab per-soalan-persoalan kontemporer. Akhirnya, dari pantai harapan dan di tapal batas perjuangan, semoga kiranya buku ini bermanfaat jua adanya serta menjadi amal shaleh yang akan terus mengalir sepanjang masa dengan hadirnya generasi pejuang dan perjuangan yang bergenerasi hingga Allah SWT berkenan memenangkan para mujahid-Nya. Amin.

Mardhatillah, Syawal 1429 H
Wassalam bil Khair

Al Chaidar

Kamis, November 13, 2008

Buku Baru MADANI PRESS: "LURUSKAH AQIDAH ANDA?"

"LURUSKAH AQIDAH ANDA?"

Judul buku yang 'dahsyat' ini merupakan hasil kajian mendasar dan mendalam atas ”buku induk” (al-Qur'an) karena bertema tentang Aqidah Tauhid (ajaran dasar para nabi dan rasul Allahl), sesuatu yang sangat mengakar dalam kajian tentang Islam sebagai sistem hidup (way of life). Kehadiran buku ini sangat penting dan urgen, di tengah kondisi umat Islam yang mengalami ’kehancuran’ dalam segala lini; rapuh dalam keimanan, beku dan jumud dalam pemikiran, terpuruk dalam kehidupan duniawi, bermoral hewani, mati suri dalam krisis ekonomi, dan rentan untuk kehidupan ukhrawi. Oleh sebab itu kami coba hadirkan di hadapan para pembaca, buku yang sangat ’luar biasa’ ini semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Amiiin. (MADANI PRESS)


Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Suradilaga,  Amin (Ust.) ~ Luruskah Aqidah Anda? Pemurnian Kembali Pondasi Keislamam Berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits/ Penulis Ust. Amin Suradilaga/ Editor: M. Muntasir Alwy

Madani Press/Al Amien Press, Jakarta,

xviii + 222 hlm; 14.8 x 21 cm

 Cetakan I – Nopember 2008

 ISBN 978-979-1372-27-5

 1. Aqidah 2. Pemurnian 3. Islam I. Judul

I. Suradilaga II. Amin III. Alwy, M. Muntasir (Ed.)

Sabtu, September 13, 2008

MERETAS JALAN KE HELSINKI

26 Juni 2008 | 2258 kata
Oleh Widiyanto
Farid Husain, seorang dokter bedah, yang ikut mengupayakan perdamaian di Aceh. Dia belajar tentang konflik Aceh dari buku-buku dan warung nasi.
HUBUNGAN Jakarta dan Aceh memanas pada tahun 2003. Pemicunya adalah penangkapan lima perunding Gerakan Aceh Merdeka atau GAM di bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Kelima orang ini hendak terbang ke Tokyo untuk ikut dalam perundingan Cessation of Hostilities Agreement atau CoHA di minggu kedua Mei tahun itu.

Setelah ditangkap, Nashiruddin bin Ahmed, Amni bin Ahmad Marzuki, Muhammad Usman Lampoh Awe, Teuku Kamaruzzaman, dan Sofyan Ibrahim Tiba pun diadili dan dihukum dengan tuduhan makar dan melakukan tindak pidana terorisme oleh negara Indonesia.

Perundingan yang prosesnya telah dimulai sejak tahun 2002 itu gagal. Presiden Megawati Soekarno meminta GAM memenuhi tiga tuntutan Indonesia, yaitu Aceh tetap dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), GAM harus menerima otonomi khusus, dan GAM harus meletakkan senjata.

GAM menolak. Seminggu pasca penangkapan para juru runding GAM, tepatnya 19 Mei 2003, pemerintah Megawati mengumumkan status Darurat Militer (DM) di Aceh.

Di masa ini pula dikenal istilah ‘KTP Merah-Putih’. Berbeda dengan kartu identitas penduduk pada umumnya, ‘KTP Merah-Putih’ ini berukuran lebih besar dan menggunakan lambang negara Pancasila sebagai logo. Sesuai dengan sebutannya, kartu ini berwarna merah dan putih. Tujuannya untuk mempolitisasi identitas orang Aceh sebagai bukti setia kepada NKRI.

Aceh kembali tertutup. Wartawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dilarang meliput di Aceh kecuali atas izin komandan operasi DM yang waktu itu dijabat Mayor Jenderal Bambang Darmono.

Tapi dalam kabinet Megawati tak semua mendukung cara keras ini. Jusuf Kalla yang kala itu menjabat Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat memerintahkan Farid Husain agar tetap memelihara hubungan dengan pihak GAM.

Husain memang orang kepercayaan Kalla. Profesi resminya, dokter bedah. Tapi dia banyak terlibat dalam urusan konflik di Indonesia dan perundingan-perundingannya. Dia menerima tugas itu sebulan setelah DM berlaku di Aceh.

"Persisnya tanggal enam bulan enam tahun 2003," kata Husain yang saya temui di kantornya di Departemen Kesehatan, di kawasan Kuningan, Jakarta.

"Saya ingat betul. Itu hari Jumat."

Jusuf Kalla dan Husain sama-sama orang Bugis, Sulawesi, dan Sulawesi juga punya sejarah memberontak terhadap Jawa. Pemberontakan yang paling terkenal ialah "Pemberontakan Kahar Muzakkar".

Pada awal 1950-an Kahar Muzakkar mencopot pangkat letnan kolonelnya dan memimpin pasukannya melawan kebijakan Jakarta. Muzzakar protes terhadap rasionalisasi tentara yang mengharuskan anggota pasukannya diseleksi untuk masuk dalam tubuh tentara nasional Indonesia.. Muzzakar ingin pasukannya jadi bagian penuh tentara Indonesia tanpa syarat, karena mereka telah berjuang membebaskan negara Indonesia dari penjajah.

Pada 7 Agustus 1953, Muzzakar yang kecewa bergabung dalam Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan menjadi bagian dari empat poros wilayah gerakan ini, dengan Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan, dan Daud Beureuh di Aceh.

Menurut Andi F Bakti dalam buku Collective Memories of Qahhar Movement, pada 15 Desember 1963 Muzzakar telah memerintahkan menteri luar negerinya, Kaso Abdul Gani, untuk memutus seluruh jaringan politik dengan Jawa yang diartikannya sebagai upaya menyelamatkan Sulawesi atas dominasi Jawa.

Motto yang mereka pakai pada waktu itu adalah Selamatkan Sulawesi!

Keduanya, Muzakkar dan Gani, membentuk negara Republik Persatuan Sulawesi (RPS) dengan Gani sebagai presiden atau pemegang kuasa organisasi.

Setelah Kahar Muzakkar tewas pada awal Februari 1965, sebagaimana yang ditulis Bakti, Gani mengkonsolidasikan kekuatan gerakannya bersama Hasan Muhammad Di Tiro atau populer dengan sebutan Hasan Tiro, yang ketika itu menjabat duta besar dan menteri luar negeri RPS sekaligus memimpin perlawanan Aceh terhadap Jawa. Tiro nantinya mendeklarasikan Negara Aceh Sumatra pada 1976 dan memimpin Front Pembebasan Aceh Sumatra, yang dijuluki pemerintah Indonesia sebagai GAM.

Inilah yang membuat sejarah Sulawesi punya kaitan dengan Aceh atau GAM. Dari sejarah ini pula, Kalla tahu bahwa orang Aceh membenci Jawa.

Kelak, ketika hendak mengupayakan perundingan damai antara Indonesia dan GAM di Helsinki pada tahun 2005, Kalla memilih orang non Jawa sebagai tim perunding dari pihak Indonesia. Husain termasuk di dalamnya.

"Pak Jusuf memilih saya karena saya dianggap familier, friendly dengan GAM. Jadi saya sebenarnya sudah GAM tapi hanya tidak melebur ke dalam GAM," ujar Husain.

Di meja perundingan, Husain bukan tipe orang yang banyak bicara. Namun gayanya yang santai memberi efek tersendiri dalam ruang perundingan.

"Dia datang dan mengobrol ke rombongan kami. Dia ini lebih berat pada jalinan hubungan pribadi," tutur perwakilan GAM, Nur Djuli, kepada saya.

Sementara juru runding di pihak GAM dipimpin oleh Malik Mahmud (perdana menteri GAM) dan Zaini Abdullah (menteri luar negeri merangkap menteri kesehatan GAM) dengan anggota Bakhtiar Abdullah (juru bicara GAM), Nurdin Abdul Rahman, dan Nur Djuli (intelektual GAM).

Pihak GAM ini masih diperkuat dengan sejumlah tokoh GAM luar negeri yang datang khusus untuk mendukung mereka dalam negosiasi, di antaranya Tengku Hadi dari Jerman dan Munawarliza dari Aceh Center di Washington, Amerika Serikat. GAM juga didampingi penasehat politiknya, Damien Kingsbury, seorang doktor ilmu politik dari Deakin University, Australia.

Juru runding pemerintah Indonesia terdiri dari ketua delegasi Hamid Awaluddin (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia), dengan anggota yang terdiri dari Sofyan Djalil (Menteri Komunikasi dan Penyiaran), Usman Basjah (Deputi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan), I Gusti Wesaka Pudja (Direktur Bidang Hak Asasi Manusia dan Keamanan di Departemen Luar Negeri) dan Farid Husain. Dua anggota delegasi berasal dari Sulawesi Selatan yakni Hamid Awaluddin dan Farid Husain, dan seorang dari Aceh, yaitu Sofyan Djalil.

Dominannya juru runding dari Aceh dan Sulawesi Selatan di meja perundingan memunculkan sebuah gurauan bahwa perundingan Helsinki ini adalah perundingan GAM dengan GAM. Ya, antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Gerombolan Anak Makassar. Namun, Husain menampik hal ini, "Pak Hamid dipilih karena dia tahu hukum, Usman Basjah bidang politik, dan Pak Agung Wesaka Pudja itu seorang diplomat."

Perundingan pemerintah Indonesia dan GAM ini berjalan lima ronde, antara Januari hingga Agustus 2005. Ronde pertama dimulai 27 Januari 2005, sebulan sesudah bencana tsunami melanda Aceh. Perundingan pada ronde pertama berlangsung selama tiga hari di ruang perpustakaan di Konigstedt Mansion, sekitar 25 kilometer dari Helsinki. Di luar gedung salju turun menutupi jalanan dan juga halaman Mansion.

"Ini adalah hari bersejarah. Sebab, itu adalah awal dari tercapainya perdamaian di Aceh setelah konflik berkepanjangan," kata Husain.


FARID Husain tergolong orang yang gemar berolahraga. Walau hanya sehari dalam seminggu, dia kerap melakukan aktivitas itu pada Minggu pagi. Biasanya Husain mengajak istrinya, Ratna Soedarinan alias Nana, untuk sekadar jogging di kawasan Senayan. Namun pada suatu Minggu pagi di pertengahan 2003 ada hal yang berbeda. Berangkat dari rumah dinasnya di perumahan pejabat tinggi sekretariat negara di daerah Slipi, suami-istri itu tidak langsung meluncur ke Senayan, namun berbelok arah menuju daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Mobil Toyota Soluna yang dikemudikan Husain berhenti dekat sebuah warung makan.

"Ngapain kita ke sini?" tanya sang istri.

"Kita mampir dulu sebentar," jawab Husain, sembari mengambil botol air minum di dekat joknya. Dia lantas membasahi handuk kecilnya agar terkesan basah oleh keringat. Kaos oblong yang dia kenakan pun dicipratinya dengan air secukupnya.

Keduanya lantas keluar dari mobil, menuju warung masakan Aceh itu. Husain menyebut warung tersebut warung ’pagi-sore’. Istilah ini dia pakai untuk merujuk jadwal operasi warung. Siang hari warung tutup. Julukan Husain yang lain untuk warung ini adalah warung ’kentaki’.

"Maksudnya kalau makan di situ, kentaki alias kelihatan kakinya," ujarnya terkekeh.

Dia jadi sering datang ke warung ‘pagi-sore’ itu, sekadar untuk makan dan menghimpun informasi tentang Aceh. Di sela-sela tugasnya, Husain memperoleh informasi penting dari Sutejo Juwono, sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat waktu itu. Juwono meminta agar dia menemui seseorang bernama Mahyuddin yang dikesankan Juwono sebagai orang yang punya banyak kenalan di kalangan GAM. Mahyuddin berbisnis dengan tentara.

"Dia memasok banyak peralatan tentara dan polisi," kata Husain.

Husain meminta Juwono untuk mengatur pertemuannya dengan Mahyuddin. Dia dan Mahyuddin menginap di hotel yang sama: Hotel Sahid Makassar. Sesampainya di hotel setelah perjalanan dari Jakarta, Husain kemudian mendatangi resepsionis, menanyakan Mahyuddin sudah datang atau belum. Saat itu seorang pria berbadan kekar berdiri di belakangnya. Ketika resepsionis menjawab pertanyaannya, pria misterius itu terus saja memandanginya.

"Pak Mahyuddin?" tanya Husain, setengah menerka.

"Iya," jawab pria tegap itu singkat.

Segera saja Husain mengajak Mahyuddin makan malam menyantap ikan bakar. Keduanya makan dengan santai, tak menggunakan sendok tapi dengan tangan langsung.

"Kebetulan cara makan orang Aceh dan Bugis sama. Jadi dari kebiasaan, kami berdua, relatif nyambung," kata Husain. Meski baru pertama kali bertemu, keduanya merasa seperti sudah kenal lama.

Keesokan hari dia membawa Mahyuddin menemui Jusuf Kalla di rumah pribadi Kalla di Jalan Haji Bau, Makassar.

Mahyuddin bicara meledak-ledak di hadapan Kalla. Keras dan bersemangat.

"Farid, dia itu bukan GAM. Tapi dia lebih GAM daripada GAM," kata Kalla kepada Husain, dalam bahasa Bugis. Husain mengamininya.

Setelah pertemuan itu, Husain makin sering menghubungi Mahyuddin. Biasanya mereka bertemu di Hotel Hilton Jakarta yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Sultan di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta.

Intensitas pertemuannya dengan Mahyuddin dimanfaatkan Husain untuk mencari informasi mengenai akses dengan pemimpin GAM di Swedia. Rupanya dia salah sasaran. Mahyuddin tidak punya koneksi bagus dengan Swedia.

"Mahyuddin disangka mata-mata karena dia terlalu sering berhubungan dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Tapi dengan GAM di lapangan dia dekat, dengan yang muda-muda," kisah Husain kepada saya.

Mahyuddin orang yang menyuplai kartu telepon seluler untuk GAM di lapangan. Dia yang menjamin kelancaran komunikasi Husain ke orang-orang GAM di Aceh. Bahkan tak jarang Husain berbicara langsung dengan Panglima GAM, Muzakkir Manaf, lewat telpon seluler Mahyuddin. Saking seringnya menelepon, sampai-sampai Muzakkir Manaf hafal suaranya. Dari Mahyuddin pula, Husain mengetahui bahwa sifat kepemimpinan GAM itu sangat kolektif. Artinya, kita tidak bisa bertemu dengan satu orang saja tanpa yang lainnya tahu.

Mengetahui relasi Mahyuddin yang buruk dengan GAM Swedia, Husain mencari cara lain untuk berhubungan dengan Swedia.

Muncullah sosok yang di luar dugaan ke hadapannya.

Orang itu adalah Juha Christensen, peneliti bahasa asal Finlandia. Husain mengenal Christensen sekitar 20 tahun lalu, ketika Christensen melakukan pendataan 100 bahasa yang berkembang di Sulawesi.

Namun, proses mencari hubungan dengan Swedia tak semudah yang dibayangkan.

Pada Februari 2004, Husain berangkat ke Stockholm, Swedia. Seperti dijanjikan Christensen, dia akan dipertemukan dengan pemimpin tertinggi GAM. Ternyata pertemuan itu urung, karena Malik Mahmud dan Zaini Abdullah tak mau menemuinya meski mereka sempat berpapasan di lobi hotel.

Husain marah besar kepada Christensen, yang saat itu berprofesi sebagai pedagang speed boat.

"Telaso kau Juha, kau pembohong!!" umpat Husain kepada Juha. "Orang bule pembohong!"

"Maaf Farid, maaf Farid. Saya tidak tahu kalau sifat pemimpin GAM seperti itu," sahut Christensen.

Relasi keduanya menjadi agak tegang. Saat itu juga, Christensen berjanji akan mengatur kembali pertemuan Husain dengan GAM Swedia. Dia lantas menghubungi koleganya, pemimpin redaksi majalah Suomen Kuvalehti, Tapani Ruokanen, guna menghubungkannya dengan mantan presiden negaranya Martti Ahtisaari yang juga direktur Crisis Management Initiative atau CMI, yang dikenal memiliki banyak pengalaman sebagai penengah konflik di beberapa negara.

Husain pun menemui Ahtisaari dengan didampingi Christensen dan Ruokanen. Mister president—sebutan Ahtisaari—hanya mengenal Ruokanen, yang kemudian mengenalkan Husain dan Christensen kepadanya. Setelah itu Husain berbicara 10 sampai15 menit tentang masalah Aceh, dan konflik-konflik di mana dirinya ikut ambil bagian dalam proses pendamaian. Setelah mendengar cerita Husain, Ahtisaari tertarik dan bersedia jadi penengah perundingan Indonesia dengan GAM.


LELAKI itu mondar-mandir. Sesekali dia melempar senyum, menyalami para hadirin. Sesekali pula dia berbisik-bisik pada koleganya. Badannya tambun. Rambut memutih. Raut mukanya menunjukkan dia sedang berbahagia. Bertempat di ballroom Hotel Four Season, Jakarta, awal Mei 2008 lalu, Husain seperti sedang menyelenggarakan reuni dengan pemimpin GAM. Sejatinya, acara pagi itu seminar Peace Processes in Indonesia. Penyelenggaranya adalah Indonesia Peace Institute-Interpeace Aceh Programme, sebuah konsorsium lembaga perdamaian yang bertujuan mengawal kesepakatan Helsinki.

Husain menjabat ketua panitia seminar. Pagi itu dia mengenakan tuxedo. Jas hitamnya dibiarkan terbuka, tidak dikancingkan.

Saya melihat Malik Mahmud dan Zaini Abdullah, dua mantan juru runding GAM di Helsinki. Mereka berada di meja barisan depan. Keduanya duduk semeja dengan penengah perundingan Helsinki yang juga mantan presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Ada juga wakil gubernur Aceh, Muhammad Nazar. Mantan panglima tentara GAM, Muzakkir Manaf, duduk di kursi paling belakang, di pojok ruangan. Selain dari GAM, seminar juga dihadiri para praktisi perdamaian dari Poso dan Ambon.

"Memang tidak mungkin kita dapat menghilangkan konflik sama sekali. Karena dari sejarah peradaban manusia, konflik atau peperangan telah muncul sejak dulu, sejak Putra Adam, Qabil dan Habil yang bertikai karena kepentingan kekuasaan dan cinta," kata Husain, saat memberi sambutan.

"Walau demikian, sejarah juga mencatat terdapat sejumlah konflik yang bisa diselesaikan dengan damai," lanjutnya. Dia mencontohkan pengalaman Indonesia yang beberapa kali dilanda konflik, seperti di Poso, Ambon, Kalimantan, dan Aceh.

Masih dalam sambutannya, Husain mengatakan bahwa Indonesia tidaklah sendirian menghadapi konflik. Mengutip catatan sebuah lembaga riset, KOSIMO, dia menyebutkan sejak 1945 hingga 1999 ada 143 negara di dunia yang diguncang bermacam konflik. Dilihat dari upaya penyelesaiannya, konflik internal cenderung tidak menghasilkan suatu resolusi.

"Angkanya mencapai sekitar 73,5 persen," tegas Husain.

Dan ada 51,2 persen konflik yang cenderung menyebabkan keruntuhan rezim yang berkuasa.

Memperhatikan data yang terakhir, kita bisa mengingat ambruknya Uni Soviet pada akhir dekade 1980-an sampai awal 1990-an. Negara komunis terbesar itu pecah berkeping-keping menjadi beberapa negara kecil baru dan satu negara besar hingga sekarang, yakni Rusia. Gejala bubar dan berkeping-kepingnya Uni Soviet ini terkenal dengan sebutan fenomena Balkanisasi, merujuk pada nama geopolitik kawasan Eropa Timur itu.

Elit politik Jakarta sangat cemas terhadap Balkanisasi ini, terutama sejak jatuhnya pemerintahan Soeharto pada 1998. Saat itu beberapa provinsi mengajukan referendum terhadap Jakarta, seperti Riau, Papua, Aceh, dan juga Timor Leste yang akhirnya jadi negara merdeka pada 1999.

"Mengacu pada riset KOSIMO tadi, tentunya Indonesia boleh berbangga hati bahwa di tengah sejumlah negara tidak mampu menghasilkan resolusi, Indonesia mampu dan berhasil tanpa ada pihak yang merasa kehilangan muka," kata Husain.

Resolusi yang dia maksud tak lain dari Kesepakatan Helsinki yang ditandatangani pemerintah Indonesia dan GAM di ibukota Finlandia itu.

Husain membutuhkan waktu tak kurang dari dua tahun untuk menelusuri informasi, jaringan, dan mencari hubungan dengan para pimpinan GAM. Dia keluar-masuk hutan Aceh, terbang ke Singapura, Belanda, Swedia, hingga mencari saudara-saudara para pemimpin GAM Swedia yang tinggal di pinggiran Jakarta.

Husain saat itu benar-benar memposisikan dirinya sebagai penghubung pemerintah, baik dengan GAM di lapangan maupun GAM di Swedia. Dalam bayangannya, apa yang sedang dilakukannya semata-mata demi urusan kemanusiaan. Dia menyimak keluhan atau lebih tepatnya cacian elit maupun pemimpin GAM terhadap sentralisme pemerintahan Jakarta, kebrutalan tentara alias ‘baju hijau’ saat bertugas di Aceh. Buku-buku sejarah konflik Aceh dia baca agar mendapat gambaran dan latar belakang masalah.

Hasilnya, seperti yang dia tulis di bukunya yang berjudul To See the Unseen; Kisah di Balik Damai di Aceh. Husain menyimpulkan ada lima kelompok dalam GAM. Pertama, kelompok GAM Swedia.

"Mereka ini adalah tokoh-tokoh senior, sesepuh yang tinggal di Swedia," katanya. Yang jelas bisa dimasukkan dalam kategori ini tentu pejuang GAM generasi pertama yang ikut mendeklarasikan berdirinya GAM pada 4 Desember 1976 seperti Hasan di Tiro, Zaini Abdullah, atau Malik Mahmud. Sedang kelompok kedua, menurut Husain, yakni pentolan GAM di hutan yang merupakan sayap militer dari gerakan ini.

Kelompok ketiga diidentifikasikannya sebagai GAM civil society, yakni mereka yang bergerak di kota. Sementara keempat adalah yang berperan sebagai think-tank GAM, para pemikir-pemikir dan pemasok informasi. Dan kelima, adalah mereka yang berperan sebagai perwakilan-perwakilan GAM di berbagai negara yang dapat disebut sebagai duta besar mereka.

Kategori ini berdasarkan perbedaan kerja, bukan berdasarkan faksi-faksi di tubuh GAM yang belakangan mulai terlihat ke permukaan.

Apakah perdamaian di Aceh akan langgeng? Apa pun jawabannya, Husain adalah salah seorang yang terlibat dalam mengupayakan perdamaian yang terjadi di Aceh hari ini.***

Symposium "Land use after the Tsunami - Support of Education, Research and Development in the Aceh Region

Dear Madam/Sir,
We like to call your attention to the expanded International
Symposium "Land use after the Tsunami - Support of Education,
Research and Development in the Aceh Region" that will be held
from the 4th to the 6th of November 2008 in Banda Aceh,
Indonesia.
The symposium is aimed to share experiences in the development
of human resources and agricultural and environmental research
on tsunami affected areas, particularly in Aceh.
If you are interested in these topics, we would like to
welcome you at the symposium.
We would be grateful, if you could distribute the announcement
within your institution and if you could forward this mail to
other potentially interested colleagues.
Further information you can find in the attachement or on the
web pages: www.igzev.de/aculture or
www.worldagroforestrycentre.org/sea/projects/Regrin.
If you have any questions, please contact us
aculture@igzev.de.

Sincerely,

Henrike Perner and Andrea George

Dr. Henrike Perner

Leibniz-Institut für Gemüse und Zierpflanzenbau e.V.

Abteilung Pflanzenernährung

Leibniz-Institute of Vegetable and Ornamental Crops

Department of Plant Nutrition

Theodor-Echtermeyer-Weg 1

D-14979 Großbeeren

phon: +49 (0) 33 701 / 78 315

fax: +49 (0) 33 701 / 55 391

Humboldt Universität zu Berlin

Fakultät der Pflanzenbauwissenschaften

Abteilung Pflanzenernährung

Humboldt University of Berlin

Institute of Crop Science

Department of Plant Nutrition

Invalidenstraße 42

10115 Berlin

phon: +49 (0) 30 2093 8595

fax: +49 (0) 2093 8369

Academy Professorship Indonesia
in Social Sciences & Humanities
The Graduate School
Gadjah Mada University
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman,
Yogyakarta 55281
Phone/fax: +62 274 564239 (ext.401)
Phone/fax (direct): +62 274 7110145
hp: 62815 1343 3677

Rabu, September 10, 2008

Halal-Haram Binatang/Hewan menurut 4 (Empat) Imam Mazhab

No.

Nama Hewan

Pendapat 4 (Empat) Imam Mazhab

Hanafi &

Alasannya

Malik &

Alasannya

Syafi'i &

Alasannya

Hambali &

Alasannya

1.

Angsa

halal

binatang ternak

halal

binatang ternak

halal

binatang ternak

halal

binatang ternak

2.

Anjing

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

3.

Anjing hutan

haram

Haram

Halal

Bukan buas

Halal

Bukan buas

4.

Anjing laut

haram

hidup di dua alam

Halal

Hewan laut

haram

hidup di dua alam

haram

hidup di dua alam

5.

Ayam

halal

Qs.al-Maaidah:1

halal

Qs.al-Maaidah:1

halal

Qs.al-Maaidah:1

halal

Qs.al-Maaidah:1

6.

Babi

haram

Qs.al-Maaidah:3

haram

Qs.al-Maaidah:3

haram

Qs.al-Maaidah:3

haram

Qs.al-Maaidah:3

7.

Badak

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

8.

Banteng

Halal

hewan buruan

Halal

hewan buruan

Halal

hewan buruan

Halal

hewan buruan

9.

Bebek

halal

binatang ternak

halal

binatang ternak

halal

binatang ternak

halal

binatang ternak

10.

Bekicot

haram

halal

11.

Belalang

Halal

hadits shahih

Halal

hadits shahih

Halal

hadits shahih

Halal

hadits shahih

12.

Belatung

Haram,

setelah ditiup rohnya

Wajib dipisahkan

dari makanan, bila tidak bisa

dan sedikit boleh dimakan

Yang lahir dari makanan

boleh dimakan dengan

syarat dimakan dengan

makanan dan tidak mengubah bau, rasa, dan warna

Sama dengan pendapat Imam Syafi'i

13.

Belut

haram

Halal

Hewan air

Halal

Hewan air

Halal

Hewan air

14.

Beruang

haram

buas dan bertaring

Halal

Selain yang bertaring

haram

buas dan bertaring

haram

buas dan bertaring

15.

Biawak

Haram

ada haditsnya

Halal

Tidak ada larangan

Halal

ada haditsnya

Halal

ada haditsnya

16.

Bighal (dari keledai)

mengikuti induk betina

mengikuti induk betina

Haram

Qs. An-Nahl:80

Haram

Qs. An-Nahl:80

17.

Buaya

Haram

sering makan manusia

halal

Haram

sering makan manusia

Haram

sering makan manusia

18.

Bunglon

haram

ada larangan

halal

Tiada larangan

halal

Tiada larangan

halal

Tiada larangan

19.

Burung air

halal

tidak bercakar

halal

tidak bercakar

halal

tidak bercakar

halal

tidak bercakar

20.

Burung hantu

haram

bercakar

halal

haram

bercakar

haram

bercakar

21.

Burung unta

haram

memakan bangkai

Halal

Tiada larangan

haram

memakan bangkai

haram

memakan bangkai

22.

Cacing

halal

tiada larangan

Halal

Tiada larangan

Haram

menjijikkan

Haram

menjijikkan

23.

Capung

halal

dekat dengan belalang

halal

dekat dengan belalang

halal

dekat dengan belalang

halal

dekat dengan belalang

24.

Cecak

haram

diperintahkan untuk dibunuh

Halal

haram

diperintahkan untuk dibunuh

haram

diperintahkan untuk dibunuh

25.

Cumi-cumi

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

26.

Domba

halal

hadits shahih

halal

hadits shahih

halal

hadits shahih

halal

hadits shahih

27.

Elang

haram

bercakar

halal

haram

bercakar

haram

bercakar

28.

Gagak abgho

haram

memakan bangkai

Halal

Tiada larangan

haram

memakan bangkai

haram

memakan bangkai

29.

Gagak ghudaf

haram

memakan bangkai

Halal

Tiada larangan

haram

memakan bangkai

haram

memakan bangkai

30.

Gajah

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

31.

Golira

haram

bertaring

makruh

haram

bertaring

haram

bertaring

32.

Harimau

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

33.

Hiu

halal

hewan laut

Halal

Hewan laut

halal

hewan laut

halal

hewan laut

34.

Hud-hud

haram

dilarang dibunuh

halal

Tiada larangan

halal

halal

35.

Ikan

halal

hadits shahih

halal

hadits shahih

halal

hadits shahih

halal

hadits shahih

36.

Ikan duyung

halal

hewan laut

makruh

halal

hewan laut

halal

hewan laut

37.

Ikan mengapung

haram

halal

hewan laut

halal

hewan laut

halal

hewan laut

38.

Itik

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

39.

Jangkrik

-

halal

dekat dengan belalang

halal

dekat dengan belalang

halal

dekat dengan belalang

40.

Jerapah

halal

tidak ada larangan

halal

Tiada larangan

halal

Tiada larangan

halal

Tiada larangan

41.

Kadal

haram

dilarang

haram

dilarang

halal

Tiada larangan

halal

Tiada larangan

42.

Kakak tua

makruh

halal

Tiada larangan

haram

halal

Tiada larangan

43.

Kalajengking

haram

berbahaya bagi tubuh

haram

berbahaya bagi tubuh

haram

berbahaya bagi tubuh

haram

berbahaya bagi tubuh

44.

Kambing

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

45.

Kancil

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

46.

Kanguru

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

47.

Katak

halal

tiada larangan

halal

tidak ada larangan

Haram

Binatang dua alam

Haram

Binatang dua alam

48.

Kecebong

halal

tiada larangan

halal

tidak ada larangan

Haram

Anak katak

Haram

Anak katak

49.

Kecoa

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

50.

Keledai jinak

haram

hadits shahih

Makruh tanzih

haram

hadits shahih

haram

hadits shahih

51.

Keledai liar

Halal

hadits shahih

Halal

hadits shahih

Halal

hadits shahih

Halal

hadits shahih

52.

Kelelawar

makruh

kurang thoyyib

Makruh tanzih

kurang thoyyib

Haram

menjijikkan

Haram

menjijikkan

53.

Kelinci

halal

HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah

halal

HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah

halal

HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah

halal

HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah

54.

Keong

haram

dilarang

Halal

Hewan air satu alam

Halal

Hewan air satu alam

Halal

Hewan air satu alam

55.

Kepiting

haram

dilarang

Halal

Hewan laut satu alam

Halal

Hewan laut satu alam

Halal

Hewan laut satu alam

56.

Kera

haram

bertaring

Makruh

bertaring

haram

bertaring

haram

bertaring

57.

Kerang

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

58.

Kerbau

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

59.

Kijang

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

60.

Kucing

haram

bertaring

Makruh

Bertaring

haram

bertaring

haram

bertaring

61.

Kuda

haram

dilarang

Halal

Hadits Bukhori-Muslim

Halal

Hadits Muttafaqun 'alaihi

Halal

Hadits Muttafaqun 'alaihi

62.

Kuda laut

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

63.

Kuda nil

halal

tiada larangan

halal

tiada larangan

halal

tiada larangan

halal

tiada larangan

64.

Kunang-kunang

halal

boleh

halal

tiada larangan

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

65.

Kupu-kupu

haram

menjijikan

halal

tiada larangan

haram

menjijikan

haram

menjijikan

66.

Kura-kura darat

haram

halal

tiada larangan

67.

Kutu

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

haram

berbahaya/tidak dapat disembelih

68.

Lalat

haram

berbahaya dan menjijikan

Halal

Bila tidak berbahaya

haram

berbahaya dan menjijikan

haram

berbahaya dan menjijikan

69.

Landak

haram

Makruh

Kurang thoyyib

halal

Atsar Ibnu Umar

haram

70.

Laron

Haram

identik dengan semut

halal

tiada larangan

Haram

identik dengan semut

Haram

identik dengan semut

71.

Lebah

haram

berbahaya

halal

tiada larangan

haram

berbahaya

haram

berbahaya

72.

Lintah

haram

berbahaya

haram

berbahaya

haram

berbahaya

haram

berbahaya

73.

Lipan

haram

berbahaya

haram

berbahaya

haram

berbahaya

haram

berbahaya

74.

Lumba-lumba

halal

hewan laut

halal

hewan laut

halal

hewan laut

halal

hewan laut

75.

Macan

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

76.

Marmut

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

77.

Menjangan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

78.

Merak

makruh

kurang thoyyib

halal

tidak ada larangan

haram

halal

tidak ada larangan

79.

Merpati

halal

tidak bercakar

halal

tidak bercakar

halal

tidak bercakar

halal

tidak bercakar

80.

Monyet

haram

bertaring

Makruh tanzih

bertaring

haram

bertaring

haram

bertaring

81.

Musang

haram

bertaring

Makruh tanzih

bertaring

haram

bertaring

haram

bertaring

82.

Nyamuk

haram

menjijikan

haram

menjijikan

haram

menjijikan

haram

menjijikan

83.

Orang utan

haram

bertaring

Makruh

bertaring

haram

bertaring

haram

bertaring

84.

Penyu laut

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

85.

Rajawali

haram

bercakar

halal

haram

bercakar

haram

bercakar

86.

Rayap

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

haram

menjijikan

haram

menjijikan

87.

Rubah

haram

dilarang

haram

dilarang

Halal

Bukan buas

haram

88.

Rusa

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

89.

Sapi

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

halal

Qs.al-maaidah:1

90.

Semut

Haram

tidak dapat disembelih

halal

Haram

tidak dapat disembelih

Haram

tidak dapat disembelih

91.

Simpanse

haram

bertaring

Makruh

bertaring

haram

bertaring

haram

bertaring

92.

Singa

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

93.

Siput

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

94.

Srigala

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

95.

Tikus

haram

menjijikan

halal

tidak ada larangan

haram

menjijikan

haram

menjijikan

96.

Tiram

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

97.

Tokek

haram

menjijikan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

halal

tidak ada larangan

98.

Tupai

haram

haram

Halal

Tidak bertaring

Halal

Tidak bertaring

99.

Udang

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

100.

Ular

haram

bertaring

halal

haram

bertaring

haram

bertaring

101.

Ular laut

haram

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

Halal

Hewan laut

102.

Ulat

haram

membahayakan

haram

membahayakan

haram

membahayakan

haram

membahayakan

103.

Unta

halal

Qs.al-hajj:36-37

halal

Qs.al-hajj:36-37

halal

Qs.al-hajj:36-37

halal

Qs.al-hajj:36-37

104.

Zebra

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan

halal

hewan buruan