Rabu, September 10, 2008

WASIAT IMAM SAMUDERA

الحمد لله و الصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أشهد أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله، فبعد: قال الله تعالى فى القرآن الكريم:
QS (النحل:36)
QS (البقرة: 256)
QS (الحجرات: 15)
QS (الأنفال: 24)

Kaum muslimin (رحمكم الله)
Sesungguhnya kebahagiaan seseorang itu amat tergantung pada hidup atau matinya hati orang tersebut. Adapun hidup dan matinya hati amat ditentukan oleh tauhid dan jihadnya.
Seseorang yang bertauhid secara benar niscaya hiduplah hatinya dengan kehidupan yang sejati. Sebaliknya seseorang yang tauhidnya tidak benar, niscaya matilah hatinya.
Kita bertanya, seperti apa sih tauhid yang benar itu?
Berdasarkan penelitian terhadap ayat-ayat al-Qur'an dan as-Sunnah, para ulama menyimpulkan bahwa tauhid yang benar wajib terdiri atas dua rukun:
1. menjauhi thaghut
2. memurnikan ibadah kepada Allah.
Tanpa kedua rukun itu tauhid seseorang tidaklah benar.

Untuk sebagian kaum muslimin, terutama aktivis-aktivis muslim yang mendasarkan gerakannya pada syari'at Islam secara murni, istilah thaghut sudah tentu tidak asing lagi. Namun tidak ada salahnya, bahkan teramat penting pemahaman tentang thaghut ini diulang-ulang, disegarkan, dimantapkan, dikristalkan sampai betul-betul mendarah daging, sehingga nyata kebencian, kemarahan, perlawanan, dan pertempuran para ahli tauhid (muwahhidin) dengan thaghut.
Secara garis besar, biang thaghut ada lima:
1. Syaithan yang menyeru untuk beribadah kepada selain Allah. Diulas dalam surat Yasin ayat 60:
2. Penguasa jahat (zalim) yang mengubah hukum Allah. Diulas dalam surat an-Nisaa ayat 60:
3. Orang yang menghukumi (manusia) dengan hukum selain hukum Allah. Dalam surat al-Maaidah ayat 44:
4. Orang mengaku-aku mengetahui ilmu ghaib selain Allah. Diulas dalam surat al-Jin ayat 26-27:
5. Orang yang disembah manusia lain selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu. Diulas dalam surat al-Anbiya ayat 29:

Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah tentang 5 (lima) biang thaghut. Kata beliau:
"Ketahuilah bahwa seseorang itu tidak menjadi mukmin (beriman) kepada Allah kecuali (dengan adanya) pengkafiran terhadap thaghut. Ini sesuai firman Allah:

…Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Ar-Rusydu (kebenaran) adalah dien (agama) nabi Muhammad SAW sedangkan al-Ghay (kesesatan) adalah dien (agama) Abu Jahal.
Al-Urwatul Wutsqa (buhul tali yang kuat) adalah syahadah (kesaksian) لا إله إلا الله tidak ada ilah kecuali الله. Kalimat ini meliputi dua unsur an-nafyu (peniadaan) dan al-itsbaat (penetapan). Artinya meniadakan segala jenis peribadatan kepada selain Allah ta'ala dan menetapkan segala jenis ibadah hanya untuk Allah semata, tiada sekutu baginya"

Bagaimana mewujudkan 'mengkafiri thaghut' dalam kehidupan kita?
Tentunya tidak cukup hanya dengan mengingkari dan menjauhi kuburan-kuburan, bebatuan, pepohonan, dan benda-benda mati lain yang dikeramatkan apalagi disembah-sembah. Seorang muslim yang telah mengerti tentang tauhid sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab di atas, wajib baginya menjauhi thaghut-thaghut berwujud manusia misalnya para dukun, paranormal, dan yang paling berbahaya adalah thaghut berupa penguasa (pemerintah) yang melaksanakan hukum kafir, baik sepenuhnya ataupun hukum kafir yang telah divariasi dengan sebagian hukum Islam.

Bagaimana pula praktik mengkafiri dan menjauhi thaghut yang seharusnya kita lakukan?
Sederhana saja jawabannya, yaitu tidak mengikuti segala program yang dibuat oleh thaghut, tidak mentaati aturan-aturan, norma-norma dan hukum thaghut. Tidak bekerja dan membantu atau menjadi antek-antek thaghut karena semua itu adalah kesesatan, kebatilan, dan kemungkaran.
Seseorang yang tauhidnya benar akan selalu berusaha mencegah dan atau mengubah serta menghilangkan kemungkaran. Usaha itu harus ia lakukan sesuai kadar kemampuan yang dimilikinyamulai dengan tangan, lisan, maupun hati.

مَنْ رَاءَ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَالِكَ أظْعَفُ اْلإيْمَانِ.
Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika dia tidak mampu dengan tangan maka (cegahlah) dengan lisannya dan jika tidak mampu dengan lisan maka (ubahlah) dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

Tidak pantas dan tidak boleh seorang yang bertauhid beres bermesra-mesraan dengan thaghut karena thaghut adalah musuh Allah.

kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka….

Lantas apa hubungannya dengan jihad?
Seseorang yang bertauhid niscaya akan mengerti bahwa untuk kesempurnaan praktik tauhid, wajib adanya Daulah Tauhid (Negara Tauhid), negara yang undang-undang dan dasar hukumnya adalah tauhid, bukan undang-undang dan hukum kafir. Ketika negara tauhid tegak, saat itulah dikatakan: "Telah tinggi kalimat Allah."
Hanya dengan jihad sajalah Kalimat Allah akan tegak, maka segala usaha, lahir-batin, jiwa raga, harta dan segala daya untuk menegakkan Kalimat Allah disebut sebagai jihad. Jika usaha tersebut sampai kepada harus berperang dengan tujuan tegaknya Kalimat Allah, maka perang seperti itu disebut sebagai jihad fie sabilillah.

مَنْ قَاتَلَ لَتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ اْلعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)
Barang siapa berperang demi tingginya Kalimatullah (Islam) maka dia berperang di jalan Allah… (Muttafaqun alaihi)

Seseorang yang imannya sehat, tauhidnya benar, tidak mungkin akan merasa nyaman dan tenteram hidup di negara dengan undang-undang dan hukum setan, undang-undang kafir, meski kehidupannya secara materi serba cukup, makmur, dan sejahtera. Untuk itu ia perlu, bahkan wajib untuk berjihad.
Dalam jihadlah terdapat kehidupan, terdapat kebahagiaan sejati. Karena itu Allah menyebut jihad sebagai kehidupan;

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu….

Dari Urwah bin Zubair, bahwa yang dimaksud dengan 'yang memberi kehidupan kepada kamu..' ialah perang yang dengan perang itu Allah memuliakan kamu setelah kamu hina. Dan dengan jihad (perang) itu Allah menguatkan kamu setelah kamu lemah, dan dengan perang itu Allah mempertahankan kamu dari musuh kamu setelah mereka menguasai (menjajah) kamu.
[1]
Lebih dari itu kaum muslimin (رحمكم الله)
Bahwa Allah menganggap jihad sebagai bukti kebenaran iman seseorang. Renungkanlah firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.

Perhatikanlah ayat di atas, إنما sebagai kata pembatas yang bermakna 'tidak lain, hanyalah'. Artinya, sebenarnya karakteristik utama orang-orang mukmin adalah mereka yang mengiringi imannya kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa ragu sedikit pun dengan berjihad fie sabilillah, dengan harta dan jiwa mereka. Dengan kata lain, sebenarnya para mujahidin fie sabilillah yang imannya benar. Maka Allah menyebut mereka dengan cqè%ω»¢Á9$# = mereka Itulah orang-orang yang benar.
Karena itu, setiap kita wajib mempelajari, memahami, meyakini, menghayati, dan mengamalkan TAUHID dan JIHAD seoptimal mungkin selagi hayat dikandung badan agar benar-benar tercapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bertauhid secara benar dan berjihad fie sabilillah yang dengannya kita menjadi shiddiquun, serta syuhada fie sabilillah. Amin ya Rabbal aalamin.

والله أعلم بالصواب
والسلام عليكم
الفقير والخقير إلى الله
أبو عمر جند الحق إمام سمودرا


Imam Samudra
Bumi Allah, Istana Uzlah, Nusa Kambangan
24 Jumadil Uula 1429 H

[1] Lihat tafsir Ibnu Katsir tentang surat al-Anfal ayat 24.